Sepsis dapat menyebabkan kematian dan biasanya menyerang kelompok yang paling rentan, yaitu lansia dan anak-anak. Kabar baiknya, sepsis dapat dicegah dan bahkan diobati secara efektif.
Ketika terkena infeksi, tubuh Anda melepaskan beberapa bahan kimia ke dalam darah untuk membantu melawan infeksi. Dalam beberapa kasus, bahan kimia ini menimbulkan respons inflamasi dan menyebabkan sepsis. Sepsis merupakan kondisi serius yang apabila tidak diobati dapat mengakibatkan kerusakan organ, dan dalam kasus tertentu menyebabkan kematian. Dalam bahasa umum, sepsis sering disebut sebagai keracunan darah; tubuh meracuni darahnya sendiri. Sederhananya, ketika respons tubuh terhadap infeksi tidak terkendali, kondisi ini disebut sepsis.
Sepsis dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak yang bermain dan berinteraksi di area bermain, dapat berisiko terkena infeksi yang dapat memicu penyakit tersebut. Infeksi yang tidak diobati atau luka terbuka dapat menyebabkan sepsis.
Sepsis sangat berbahaya bagi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga neonatus (bayi berusia empat minggu atau kurang) dan lansia cenderung sangat rentan terhadap penyakit ini. Menurut Sepsis Alliance yang berbasis di AS, satu dari tiga kasus sepsis di dunia berakhir dengan kematian. Jika sepsis terdeteksi lebih awal, pengobatan dapat dilakukan sehingga tidak menimbulkan efek jangka panjang. Diagnosis dan pengobatan dini sangatlah penting.
Sepsis yang muncul dalam 90 hari pertama kehidupan disebut sebagai sepsis neonatal. Sepsis pada bayi usia ini dapat muncul lebih awal (early-onset) atau muncul belakangan (late-onset), yaitu dalam 24–72 jam setelah kelahiran atau setelahnya. Sepsis early-onset yang berkembang cepat kemungkinan besar terjadi pada bayi prematur. Jika seorang ibu mengalami infeksi streptokokus B selama kehamilan atau ketuban pecah lebih dari 24 jam sebelum persalinan, maka bayi yang dilahirkan berisiko mengalami sepsis. Rawat inap di rumah sakit atau paparan terhadap orang yang terinfeksi juga dapat meningkatkan risiko sepsis. Bayi yang lahir prematur atau memiliki kondisi medis tertentu mungkin tidak bisa mendapatkan sebagian vaksin yang biasa diberikan. Keadaan ini memperbesar risiko mereka terkena infeksi seperti rubella atau cacar air, yang dapat menyebabkan sepsis.
Bayi yang mengalami sepsis dapat menunjukkan perubahan suhu tubuh, kesulitan bernapas, diare, atau penurunan frekuensi buang air besar, kadar gula darah rendah, kejang, muntah, serta kulit dan bagian putih matanya dapat berubah menjadi kuning. Di samping itu, bayi akan terlihat lemas, aktivitas geraknya berkurang, serta menyusu lebih sedikit. Detak jantung bayi bisa melambat atau justru menjadi lebih cepat, dan perutnya tampak membesar. Bayi mungkin menyusu lebih sedikit dan tidur lebih lama dari biasanya.
Pada anak usia lebih besar, gejala sepsis dapat berupa demam tinggi (lebih dari 38° C), kesulitan bernapas, serta denyut jantung yang meningkat drastis Anak menjadi jarang buang air kecil atau urine yang keluar lebih sedikit. Mereka mungkin juga menunjukkan gejala penyakit umum atau mungkin memiliki goresan atau luka yang dapat terinfeksi.
Gejala-gejala ini, terutama pada bayi baru lahir, harus segera diperiksakan ke dokter. Untuk mendiagnosis sepsis, dokter Anda mungkin merekomendasikan beberapa pemeriksaan. Dokter mungkin meminta kultur darah, pemeriksaan darah lengkap, serta tes C-reaktif protein. Kultur kulit, tinja, dan urine juga mungkin diminta, bergantung pada sejumlah faktor termasuk kondisi kesehatan ibu. Jika bayi Anda mengalami kesulitan bernapas, rontgen dada mungkin akan dilakukan. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin melakukan pungsi lumbal, yaitu memasukkan jarum ke punggung bagian bawah bayi untuk mengambil sedikit cairan serebrospinal.
Bentuk pengobatan yang diperlukan dapat bergantung pada tingkat keparahan. Jika bayi Anda tampak baik-baik saja, dokter mungkin hanya akan melakukan pemantauan sambil menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan ada tidaknya bakteri dalam darah. Jadi, Anda mungkin perlu bersiap berada di rumah sakit sedikit lebih lama. Jika tidak ada bakteri yang ditemukan dalam hasil pemeriksaan, Anda mungkin dapat segera pulang ke rumah.
Apabila terdapat dugaan sepsis, dokter dapat langsung memberikan terapi tanpa menunggu hasil pemeriksaan, sebab penanganan cepat sangat krusial. Jika tidak diobati tepat waktu, sepsis dapat menyebabkan cacat atau bahkan kematian. Antibiotik melalui infus biasanya langsung diberikan apabila terdapat dugaan sepsis. Cairan, glukosa, dan elektrolit juga dapat diberikan melalui infus. Jika bayi Anda mengalami kesulitan bernapas, ventilator dapat digunakan untuk membantu penghantaran oksigen secara efisien ke tubuh. Sebagian besar bayi yang didiagnosis tepat waktu dan ditangani dengan benar dapat kembali pulih sepenuhnya. Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penanganan tepat waktu merupakan faktor utama untuk keberhasilan pemulihan.
Karena sepsis terjadi akibat respons tubuh terhadap infeksi, maka cara terbaik mencegah sepsis adalah dengan menghindari infeksi. Vaksinasi dapat membantu mencegah infeksi tertentu. Mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun dapat mengurangi kemungkinan tertular maupun menularkan infeksi. Merawat luka dengan benar dan menjaga kebersihannya juga membantu mencegah infeksi.
Untuk mencegah sepsis pada bayi baru lahir, para dokter juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan ibu. Dokter akan meresepkan antibiotik jika sebelumnya ibu pernah memiliki anak yang mengalami sepsis neonatal atau jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi sebelum tanggal persalinan. Menyusui dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh anak Anda, sehingga mencegah terjadinya infeksi. Menghindari kelahiran prematur juga membantu mengurangi risiko ini. Perawatan prenatal yang tepat, menghindari obat-obatan dan alkohol, serta pola makan sehat dan seimbang akan membantu dalam upaya ini. Memastikan bahwa tempat persalinan Anda bersih juga mengurangi kemungkinan bayi Anda tertular infeksi. Diskusikan dengan dokter jika ada hal yang membuat Anda khawatir dan segera berkonsultasi jika muncul gejala.